Ada Hebat Dalam Rapat
Ada Hebat Dalam Rapat
“Huft,” ucapku menghela napas, kepulanganku kerumah disambut oleh undangan rapat yang sengaja digeletakkan diatas meja belajarku. “Ada saja acaranya,” aku beranjak berdiri, menaruh tas beratku, melihat semua buku-buku disekelilingku yang seharusnya aku bersihkan malam nanti. “Gagal sudah bersih-bersihku,” lagi-lagi aku menghela napas panjang, mengambil air putih, lalu beranjak mengambil telepon genggamku untuk mengetikkan sebuah pesan, “kamu berangkat juga?”
Aku benar-benar malas saat itu, menyeret satu langkah kaki untuk keluar rumah saja sangat berat untukku, “Assalamu'alaikum,” ucapku menghampiri temanku, Anin. Dibawah taburan bintang malam yang berkelap-kelip, kami berjalan melewati banyaknya rumah-rumah yang sudah menyalakan lampu-lampunya sebagai pengganti matahari, menganggap bulan dan bintang tak kuat menyinari. Kami sampai ke tempat rapat yang ternyata masih kosong, “gak salah tanggal kan?” tanyaku kepada Anin, yang sebenarnya juga nampak bingung. Udara malam menyelimuti kami yang sibuk berkeliling-keliling memastikan jika tidak salah waktu, “benar hari ini kan?” sekarang Anin balas bertanya. Sepuluh menit kami memutari bangunan yang selalu ramai ketika bulan ramadhan, mencari-cari siapapun yang akan menjadi petunjuk, bertemankan banyak nyamuk yang sudah mulai berkeluaran untuk bertahan hidup, kami menatap lekat dari utara menuju selatan, membuka mata barangkali ada yang berjalan dari timur ke barat, atau menatap pintu masjid berharap ada senior kami yang muncul membawa sepiring pisang kukus dari dalam sana. Namun sayang, nihil.
Telepon genggamku berdering, kami tidak salah tanggal, hanya saja jamnya diundur, “beneran mendadak dan mendidik ya,” setelah membaca pesan tersebut, aku dan Anin lalu melepas alas kaki, menuju serambi masjid yang jika dilihat-lihat, ternyata warna dindingnya mirip seperti kue putu ayu. Kami menatap kembali sekeliling, lalu mengambil tumpukan tikar yang sudah siap untuk di gelar, “harusnya kita ngaret aja,” raut frustasi dan kesal muncul diwajahku, siapa yang mau disiruh kerja rodi begini? Tapi, ya sudahlah.
Kubungkukan badan, menarik satu tikar terakhir yang harus digelar, “sungguh ending menyenangkan,” yang disusul oleh beberapa pemuda datang bersamaan, sepertinya Tuhan sengaja, melihat hidupku yang tidak ada olahraganya. Aku mengulurkan tangan kananku untuk bersalaman dengan mereka, “maaf ya dek, telat,” kukepalkan tanganku, mengambil napas panjang, namun hanya muncul pose jempol dan wajah ramah bersama senyum palsu yang ada diwajahku, hilang sudah semangat rapatku.
Malam ini hangat kembali, bukan karena udaranya, melaikan karena tubuhku yang sudah bercururan keringat. Ini dia yang aku tunggu-tunggu, akhirnya rapat perdana yang kuikuti dimulai, sungguh-sungguh hebat. “Malam ini, kita akan membahas bersama-sama, lomba-lomba dan acara untuk 17-an, sebelum memulai, alangkah baiknya kita mengucapkan bismillah terlebih dahulu.” Semua orang lalu mengucap bismillah dengan serentak, begitu juga aku dan Anin yang masih siaga dan semangat tatkala yang lain sudah loyo, efek menggelar tikar penghilang kantuk. Ketua dari rapat ini seolah-olah menjadi pengembara yang sedang menggiring domba-dombanya untuk memakan rumput di tempat yang sama, namun saling berebut. Suasana yang awalnya aman tentram, sekarang harus terdengar ricuh seperti benar-benar berada di ladang penuh domba, “kita ga boleh usul?” aku bertanya memastikan, benar-benar tidak ada tempat untukku berbicara.
“Kenapa harus balon ditiup?” ucap salah satu remaja perempuan yang tepat berada disampingku, kalimatnya keluar seperti umpan, lalu disambar oleh salah satu pemuda lain yang terlihat kelaparan, “biar asik, ibu-ibu kalau cuma niup balon doang masa gak kuat?” ia mengucapkan dengan penuh percaya diri, dengan wajah berharap-harap cemas berharap ada yang sepemikiran dengannya. “Benar juga, gak apa-apa, lagian nanti balonya gak perlu ditiup banget, jadi gak akan terlalu jadi masalah,” pendapat pemuda lain yang menentramkan, setelah habis kalimat pemuda tadi, kesepakatan terakhirnya adalah, lomba tetap dilaksanakan, aku juga orang yang setuju akan hal ini.
Lomba makan kerupuk duduk
Badanku berkeringat kembali, kali ini tidak mucul kehangatan, ini panas. Aku memikirkan ini hampir seribu kali, “iya, atau gak perlu,” begitu terus hingga akhirnya ini benar-benar menjadi usulan pertamaku dirapat perdanaku. Mulutku sudah terbuka lebar, ingin sekali mengeluarkan kata yang sedari tadi hanya tertahan didalam hati, dengan semangatku, aku mengacungkan telunjukku, menarik napasku dalam-dalam, meyakinkan dirku, lalu, “gimana kalau makan kerupuknya duduk?” hilang sudah rasa percaya diriku, ingin pulang bertemu Mama rasanya, mukaku memerah padam, “bagaimana jika pendapatku ditertawai? Bagaimana jika nanti itu hanya akan menjadi angin lalu saja?” Aku melihat sekelilingku, lalu menunduk, menunggu, berahrap akankah kalimat selanjutnya adalah ikan yang menyambar umpanku, aku terus menunduk berdoa, berharap usulku diterima. “Boleh aja sih. Tapi, mau duduk gimana?” Salah satu pemuda membalas usulanku, syukurlah. “Nanti anak-anak yang lomba duduk, sebelum itu, kita udah nyiapin kerupuk yang diikat pakai tali, nah tali diujung yang gak ada kerupuknya, kita taliin ke kaki yang lomba. Nanti sistemnya kayak katrol, semakin kakinya naik, ujung tali yang ada kerupuknya semakin turun.” Aku menjelaskan panjang lebar, berharap orang-orang yang sedaritadi matanya lekat menatapku mengerti apa yang aku ucapkan. “Bisa sih itu dek, lebih bagus juga, gak berdiri sambil makan,” sepertinya saat itu Tuhan dan tubuhku bekerja sama menghasilkan banyak hormon endorphin untukku, hingga aku merasa senang, bukan senang, sangat senang. “Keren,” Anin mengacungkan dua jempol untukku.
Hingga hampir tengah malam, tidak akan usai rapat ini jika bukan karena jam dinding persegi yang menyadarkan kami. Suasana di serambi masjid kembali ricuh karena akan diadakan foto bersama, “huft, gini aja kok lama banget,” kembali mengeluh, hormon endorphin yang tadi tercipta banyak didalam tubuhku hilang terkalahkan oleh rasa kesal. Benar-benar pengalaman yang unik, “kita bisa pulang duluan, yes!” Anin menarik sendalnya yang terlempar jauh karena tertendang oleh sendal orang lain dengan senang hati, sepertinya hormon endorphinku pindah kedalam tubuhnya, mungkin saja, tidak ada yang tau. “Kita jadi gak usah gulung-gulung tikar lagi,” tanggapku sembari berjalan sumringah walaupun melewati kandang penuh kotoran ayam, tak apa. “Semuanya itu punya berkahnya masing-masing ternyata, gak ada senang tanpa sedih, semua itu pasti ada waktunya,” malam itu, kami menciptakan kehangatan sendiri, bukan karena keringat yang ada ditubuh, bau tai ayam yang menusuk, ataupun karena kita berjalan menuju rumah, tapi karena ucapan yang berisi pengalaman penuh pembelajaran. Walaupun rapat perdanaku ini tidak mirip seperti apa yang aku pikirkan, namun, rapat ini tetap menyenangkan karena mengasilkan sebuah pembelajaran yang hebat.
Tugas Teks Deskripsi
Zanuba Arifa Rahma
IX A /32


Komentar
Posting Komentar